Harga Kelapa Anjlok, Petani Inhil Menjerit: “Lebih Murah dari Penyedap Rasa”

Daerah Selasa, 11 Agustus 2026 - 06:49 WIB
Harga Kelapa Anjlok, Petani Inhil Menjerit: “Lebih Murah dari Penyedap Rasa”

Julak Aqil, Ketua Kerukunan Bubuhan Bbajar (KBB) Indragiri Hilir

Tembilahan -- Ketika harga kelapa jatuh, yang ikut jatuh bukan hanya nilai sebuah komoditas, tetapi juga daya hidup ribuan keluarga, itulah yang dirasakan para petani di Kabupaten Indragiri Hilir.

Anjloknya harga kelapa saat ini  mulai memukul keras perekonomian masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, petani kelapa justru harus menerima kenyataan pahit: hasil kebun yang menjadi tumpuan hidup mereka kini dihargai jauh di bawah harga normal.

Saat ini, harga kelapa rakyat hanya berkisar Rp2.000 hingga Rp2.300 per kilogram. Angka tersebut terjun bebas jika dibandingkan dengan harga normal yang sebelumnya berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp8.000 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat para petani kelapa harus semakin mengencangkan ikat pinggang. Penghasilan dari kebun yang selama ini menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga kini tak lagi sebanding dengan biaya hidup yang terus meningkat.

Salah seorang petani kelapa, M. Saleh, mengaku hanya bisa pasrah melihat kondisi harga komoditas andalannya tersebut.

“Aduh bang, harga kelapa sekarang lebih murah dari harga penyedap Royco. Macam mana kita mau hidup? Apalagi sekarang harga bahan pokok terus naik, biaya sekolah anak-anak juga naik,” ujar M. Saleh.

Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut kebutuhan makan sehari-hari. Ia juga harus memikirkan biaya pendidikan anak-anaknya. Bahkan, salah seorang anaknya saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

M. Saleh mengaku tidak bisa membayangkan jika harga kelapa terus bertahan di level rendah dalam waktu yang panjang.

“Kalau harganya tidak naik-naik, kami mau dapat uang dari mana? Kebun kelapa ini sumber penghasilan utama kami,” keluhnya.

Kondisi yang dialami petani kelapa tersebut turut mendapat perhatian Ketua Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) Kabupaten Indragiri Hilir, Julak Aqil.

Ia mengaku prihatin melihat kondisi para petani yang semakin tertekan akibat anjloknya harga kelapa. Terlebih, sektor perkebunan kelapa selama ini menjadi salah satu penopang utama kehidupan masyarakat Inhil.

“Ya, kita sangat prihatin melihat kondisi saat ini. Entah di mana salahnya, harga kelapa bisa semurah sekarang. Kita berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi persoalan tersebut,” kata Julak Aqil.

Menurutnya, sebagian besar masyarakat Inhil memiliki ketergantungan terhadap sektor kelapa. Bahkan, diperkirakan sekitar 70 persen masyarakat hidup dari aktivitas perkebunan kelapa.

Julak Aqil mengatakan, dirinya juga pernah mencoba mencari tahu langsung penyebab jatuhnya harga kelapa kepada perusahaan yang selama ini membeli hasil perkebunan rakyat.

Dari informasi yang diperolehnya, salah satu penyebab rendahnya harga kelapa diduga berkaitan dengan melemahnya permintaan terhadap produk olahan kelapa.

“Informasi yang kita dapat seperti itu. Kabarnya kelapa sekarang menumpuk di perusahaan karena kelebihan kapasitas produksi, sementara permintaan dari pihak luar sangat sedikit,” ungkapnya.***

Selama ini, tingginya harga kelapa salah satunya dipengaruhi besarnya permintaan dari pasar luar negeri. Namun, jika ekspor mengalami penurunan atau terhambat, dampaknya langsung dirasakan petani di tingkat bawah.

Akibatnya, petani kini lebih banyak mengandalkan pasar domestik dan menjual hasil panen kepada para pengepul yang ada di daerah.

Julak Aqil berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut, sehingga harga kelapa kembali memberikan keuntungan yang layak bagi petani.

Kita berdoa mudah-mudahan segera ada jalan keluar, agar harga kelapa kembali normal seperti semula,” harapnya.***



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment