Breaking News
- Pemkab Siak dapat Dukungan APBN, Festival Siak Bermadah Tahun ini di Gelar
- Polsek Bungaraya Dan Personil Cek Lokasi Lahan Penanaman Jagung Pipil Kuartal lll, Seluas 1/4 Hektare
- Dukung Program Pekarangan Pangan Bergizi Polsek Bungaraya, Bhabinkamtibmas Polsek Bungaraya Bripka Surya Lesmana, Cek Tanaman Jagung Saat Ini Dalam Proses Perawatan
- Program Green Policing Dari Kapolda Riau, Kapolsek Bungaraya Taja Sosialisasi dan Memberikan Penyuluhan Tentang Pentingnya Menjaga Kelestarian Lingkungan
- Harga Kelapa Anjlok, Petani Inhil Menjerit: “Lebih Murah dari Penyedap Rasa”
- Semarak HUT RI ke-81, Kecamatan Tempuling Gelar Lomba Karaoke Dangdut
- Wacana Kota Rumbai Mencuat :Spanduk Bertuliskan Selamat Datang di Kota Rumbai Terpampang di Jembatan Siak IV
- "Sarapan Baumbai” KBB Inhil, Perkuat Silaturahmi dan Gali Program Pelestarian Budaya Banjar
- Hadiri Apel Siaga Karhutla 2026, Ini Pesan Polsek Bungaraya
- Seekor Monyet Berhasil Ditangkap, BBKSDA Riau Pastikan Dulu Apakah Pelaku Penyerangan Warga di Tembilahan
Harga Kelapa Anjlok, Petani Inhil Menjerit: “Lebih Murah dari Penyedap Rasa”
Julak Aqil, Ketua Kerukunan Bubuhan Bbajar (KBB) Indragiri Hilir
Tembilahan -- Ketika harga kelapa jatuh, yang ikut jatuh bukan hanya nilai sebuah komoditas, tetapi juga daya hidup ribuan keluarga, itulah yang dirasakan para petani di Kabupaten Indragiri Hilir.
Anjloknya harga kelapa saat ini mulai memukul keras perekonomian masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, petani kelapa justru harus menerima kenyataan pahit: hasil kebun yang menjadi tumpuan hidup mereka kini dihargai jauh di bawah harga normal.
Saat ini, harga kelapa rakyat hanya berkisar Rp2.000 hingga Rp2.300 per kilogram. Angka tersebut terjun bebas jika dibandingkan dengan harga normal yang sebelumnya berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp8.000 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat para petani kelapa harus semakin mengencangkan ikat pinggang. Penghasilan dari kebun yang selama ini menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga kini tak lagi sebanding dengan biaya hidup yang terus meningkat.
Salah seorang petani kelapa, M. Saleh, mengaku hanya bisa pasrah melihat kondisi harga komoditas andalannya tersebut.
“Aduh bang, harga kelapa sekarang lebih murah dari harga penyedap Royco. Macam mana kita mau hidup? Apalagi sekarang harga bahan pokok terus naik, biaya sekolah anak-anak juga naik,” ujar M. Saleh.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut kebutuhan makan sehari-hari. Ia juga harus memikirkan biaya pendidikan anak-anaknya. Bahkan, salah seorang anaknya saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
M. Saleh mengaku tidak bisa membayangkan jika harga kelapa terus bertahan di level rendah dalam waktu yang panjang.
“Kalau harganya tidak naik-naik, kami mau dapat uang dari mana? Kebun kelapa ini sumber penghasilan utama kami,” keluhnya.
Kondisi yang dialami petani kelapa tersebut turut mendapat perhatian Ketua Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) Kabupaten Indragiri Hilir, Julak Aqil.
Ia mengaku prihatin melihat kondisi para petani yang semakin tertekan akibat anjloknya harga kelapa. Terlebih, sektor perkebunan kelapa selama ini menjadi salah satu penopang utama kehidupan masyarakat Inhil.
“Ya, kita sangat prihatin melihat kondisi saat ini. Entah di mana salahnya, harga kelapa bisa semurah sekarang. Kita berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi persoalan tersebut,” kata Julak Aqil.
Menurutnya, sebagian besar masyarakat Inhil memiliki ketergantungan terhadap sektor kelapa. Bahkan, diperkirakan sekitar 70 persen masyarakat hidup dari aktivitas perkebunan kelapa.
Julak Aqil mengatakan, dirinya juga pernah mencoba mencari tahu langsung penyebab jatuhnya harga kelapa kepada perusahaan yang selama ini membeli hasil perkebunan rakyat.
Dari informasi yang diperolehnya, salah satu penyebab rendahnya harga kelapa diduga berkaitan dengan melemahnya permintaan terhadap produk olahan kelapa.
“Informasi yang kita dapat seperti itu. Kabarnya kelapa sekarang menumpuk di perusahaan karena kelebihan kapasitas produksi, sementara permintaan dari pihak luar sangat sedikit,” ungkapnya.***
Selama ini, tingginya harga kelapa salah satunya dipengaruhi besarnya permintaan dari pasar luar negeri. Namun, jika ekspor mengalami penurunan atau terhambat, dampaknya langsung dirasakan petani di tingkat bawah.
Akibatnya, petani kini lebih banyak mengandalkan pasar domestik dan menjual hasil panen kepada para pengepul yang ada di daerah.
Julak Aqil berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut, sehingga harga kelapa kembali memberikan keuntungan yang layak bagi petani.
“Kita berdoa mudah-mudahan segera ada jalan keluar, agar harga kelapa kembali normal seperti semula,” harapnya.***
Berita Populer
- Suami di Mandah Bunuh Pengganggu Istrinya Dengan Parang
- Polsek Kateman Ringkus Dua Pelaku Penyalahgunaan Narkotika di Guntung
- Mengerikan, Usai BAB, Gadis belia ini Digigit Buaya di Parit 10 Kayu Jati
- Gagal Perkosa, Pemuda Di Inhil Bunuh Bibi Kandung
- Saling Tikam Saat Mabuk Tuak, Seorang Pria di Tembilahan Tewas Bersimbah Darah
Berita Terkait
- Alhamdulillah, Kajari dan YVB Inhil Kompak Semarakkan Bulan Ramadhan0
- Bupati Siak Pantau Pos Penyekatan Minas dan Kandis0
- Pendataan SDGs Desa Sialang Panjang, Petugas Gerak Cepat turun ke lapangan0
- Cegah Pandemi, Pemcam Lubuk Dalam Lakukan Rapat Evaluasi Pencegahan Penularan Virus Covid-190
- Pemkab Siak Forkopimda dan Instansi Vertikal Gelar Rakor Penanggulangan Penyeberan Covid 190
Write a Facebook Comment
Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
View all comments








