- Balita 5 Tahun di Dusun Pisang Lama Simpang Gaung Ditemukan Meninggal Tenggelam, Keluarga Tolak Otopsi
- Harga TBS Sawit Anjlok, Ketua DPW FPN RI Riau Desak Pemerintah, KPPU dan APH Usut Dugaan Permainan Harga
- Polsek Sungai Batang Aktif Dampingi Warga, Dukung Swasembada Ketahanan Pangan di Kecamatan Sungai Batang
- Kembalikan Kejayaan IKJR : Ketum Kampriwoto Konsolidasi ke Paguyuban Jawa di Indragiri Hulu
- Hari ke-45, Renovasi Jembatan Merah Putih Presisi Tahap II di Siak Terus Dikebut
- Anggota Polsek Tanah Merah Berikan Pendampingan dan Motivasi Pada Kelompok Peternak Ayam
- Bhabinkamtibmas Turun ke Kebun, Pastikan Tanaman Jagung Warga Teluk Belengkong Tumbuh Maksimal
- Tingkatkan Ketahanan Pangan Petani, Bhabinkamtibmas Polsek Bungaraya Bripka Surya Lesmana, Cek Tanaman Jagung di Lahan Masyarakat
- SATRESKRIM POLRES SIAK UNGKAP KOMPLOTAN PENIPU MODUS BATU MERAH DELIMA KERUGIAN KORBAN CAPAI RATUSAN JUTA, EMPAT PELAKU DITANGKAP DI PEKANBARU
- Kanit Binmas Polsek Bungaraya Aiptu Jefri dan Bhabinkamtibmas Tembusai Bripka Hendra Riyadi, Laksanakan Pembajakan Tanah Tambahan, Untuk Tanam Jagung Bersama Kelompok Tani
Harga TBS Sawit Anjlok, Ketua DPW FPN RI Riau Desak Pemerintah, KPPU dan APH Usut Dugaan Permainan Harga
PEKANBARU |KORANINDRAGIRIPOS- Ketua DPW FPN RI Provinsi Riau, Syafri Teguh, menyuarakan keprihatinan mendalam atas anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang kembali menghantam kehidupan petani di Riau. Menurutnya, penurunan harga yang terjadi secara drastis dalam waktu singkat patut diduga bukan semata-mata akibat mekanisme pasar, melainkan harus ditelusuri kemungkinan adanya permainan tata niaga yang merugikan petani. (30/5/2026)
Yang jatuh hari ini bukan hanya harga sawit, tetapi juga harapan ribuan keluarga petani yang menggantungkan hidup dari kebun sawit. Ketika harga ditekan, yang menanggung penderitaan bukan perusahaan besar, melainkan petani kecil di kampung-kampung," tegas Syafri Teguh.
FPN RI Riau mendesak pemerintah, aparat penegak hukum, serta lembaga pengawas persaingan usaha untuk mengusut secara serius dugaan praktik spekulasi, permainan harga, maupun indikasi kartel yang berpotensi terjadi di rantai perdagangan sawit.
Syafri Teguh menegaskan, negara tidak boleh kalah menghadapi dugaan praktik-praktik yang merugikan petani sawit di tingkat hulu. Menurutnya, apabila terdapat indikasi permainan harga yang melibatkan oknum pelaku usaha, baik di sektor pabrik kelapa sawit (PKS), penampung CPO, maupun pihak lain dalam rantai tata niaga sawit, maka hal tersebut harus diusut secara transparan dan tuntas oleh lembaga yang berwenang.
"Negara tidak boleh kalah oleh dugaan mafia tata niaga sawit. Jika benar terdapat pihak-pihak yang bersekongkol memainkan harga sehingga petani terus menjadi korban, maka itu merupakan bentuk penghisapan terhadap masyarakat kecil yang hidup dari hasil kebunnya. Kami mendesak pemerintah, KPPU, dan aparat penegak hukum membongkar siapa pun yang terlibat tanpa pandang bulu," tegas Syafri Teguh.
Ia juga menilai anjloknya harga TBS yang terjadi berulang kali harus menjadi perhatian serius negara karena tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh kelompok-kelompok berkepentingan yang memiliki kekuatan ekonomi besar dalam rantai perdagangan sawit.
"Jangan sampai oligarki ekonomi mengendalikan nasib petani di negeri ini. Jika ada aktor-aktor besar yang diduga turut bermain dan menikmati keuntungan dari jatuhnya harga TBS di tingkat petani, maka negara wajib hadir untuk menghentikannya. Kepentingan rakyat harus ditempatkan di atas kepentingan segelintir kelompok," pungkasnya.
Menurut Syafri, petani selalu menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampak saat harga turun, namun sering kali tidak ikut menikmati keuntungan ketika harga komoditas sedang tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ketimpangan dalam tata niaga sawit yang harus segera dibenahi.
"Jangan jadikan petani sebagai korban abadi. Jika ada pihak yang sengaja memanfaatkan situasi untuk menekan harga TBS di tingkat petani, maka itu bukan sekadar persoalan bisnis, tetapi bentuk ketidakadilan ekonomi yang merampas hak masyarakat kecil," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa sawit adalah penopang ekonomi jutaan rakyat dan penyumbang devisa negara yang sangat besar. Karena itu, negara wajib hadir memastikan harga yang diterima petani berjalan secara adil, transparan, dan tidak dikendalikan oleh kepentingan segelintir kelompok.
"Petani sawit tidak meminta dikasihani. Mereka hanya menuntut keadilan atas keringat yang mereka keluarkan setiap hari. Jangan biarkan darah dan air mata petani terus menjadi bahan bakar keuntungan segelintir pihak. Negara harus berdiri di barisan petani," pungkas Ketua DPW FPN RI Provinsi Riau, Syafri Teguh.(Rilis/Adi Riansyah Siak)
Berita Populer
- Suami di Mandah Bunuh Pengganggu Istrinya Dengan Parang
- Polsek Kateman Ringkus Dua Pelaku Penyalahgunaan Narkotika di Guntung
- Mengerikan, Usai BAB, Gadis belia ini Digigit Buaya di Parit 10 Kayu Jati
- Saling Tikam Saat Mabuk Tuak, Seorang Pria di Tembilahan Tewas Bersimbah Darah
- Gagal Perkosa, Pemuda Di Inhil Bunuh Bibi Kandung
Berita Terkait
- Peniadaan Mudik Lebaran 2021, Polda Riau Dirikan 58 Pos Penyekatan.0
- PKK dan Dekranasda Gandeng RAPP Berikan Bantuan di Dua Kecamatan0
- Kapolres Siak Kunjungi Rumah Ayah Sertu Bah Yoto Eki Setiawan Kru KRI Nanggala - 402 0
- Kini Cetak dan Rekam e-KTP Sudah Bisa di Kandis0
- Sosok M Hosen, dari Manager PLN Tembilahan Hingga Komandan Pos Ronda0








