Alternatif Air Higienis Untuk Ketahanan Bangsa

Sekitar Kita Senin, 05 Agustus 2024 - 15:31 WIB
Alternatif Air Higienis Untuk Ketahanan Bangsa

ilustrasi air bersih untuk Indonesia

oleh : Sona Adiansyah (Korwil Inhil Connect Pulau Burung)

Indragiri Pos - Bicara soal kualitas air bersih di Indonesia tentu menjadi momok yang cukup ekstrim untuk dibicarakan. Meski kebutuhan air di negeri +62 "Sumber Su Dekat" secara geografis yang daerah daratannya rendah dan non bebatuan. Kebalikannya, "Sumber Air Su Jauh" secara geografis yang wilayah daratannya tinggi dan bebatuan.

Misalnya, bagi masyarakat yang berada dilereng dan puncak pegunungan maupun  perbukitan. Mereka akan berusaha menghemat air ketika di musim kemarau.

Bila datang curahan rahmat dari langit yaitu air hujan. Sebagian beranggapan anugerah dari Tuhan kepada manusia untuk semesta, alam maupun berbagai jenis kebutuhan makhluk hidup.

Berbeda hal keadaan geografis daerah maupun wilayah yang sudah modern secara infrastruktur maupun suprastruktur. Contoh ada beberapa tempat telah tersedia produsen air bersih. Penyedianya digagas oleh Pemda setempat maupun usaha wiraswasta sebagai pengecer. Seperti; distribusi air dalam wadah kemasan, usaha air galon bersifat produksi rumahan dan lain sebagainya.

Tanpa bisa dipungkiri luas wilayah negara Indonesia daratannya 1,91 juta km2, perairan 6,32 juta km2, garis pantai 99,093 km, pulau 13.466 dengan kondisi beriklim tropis. Melingkupi daerah geografis perbukitan, pegunungan, daratan rendah maupun tinggi, sungai, teluk, bebatuan, gambut dan lain-lain. Menempatkan Indonesia masyarakat terbanyak ke Empat dunia dengan jumlah penduduk 281.603.800 jiwa (2024).

Asumsinya, ideal per individu mengonsumsi air minum sebanyak 2 (dua) liter per hari. Jika dikalikan dengan 281. 603.800. Maka total masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi air per hari diperkirakan sebanyak = 563. 207.600 liter.

Pertanyaannya, apakah air sebanyak itu diatas sudah mencukupi diseluruh negeri kategorikan pelepas dahaga rasa haus. Berikutnya sudah memenuhi syaratkah sebagai air yang berkualitas higienis ? jawabannya, tentu belum.

Situs IQAir menyebutkan bahwa Indonesia masuk nominasi urutan ke 17 negara paling terkotor di dunia. Justifikasi berdasarkan pengukuran seberapa parah tingkat polusi udara di Indonesia. Konkritnya, itu belum terhitung persoalan pencemaran lingkungan lainnya. Seperti, pencemaran air, pencemaran tanah dan lain-lain.

Karena bila berkacamata dengan tetangga. Misalnya Singapura masuk dalam urutan negara ke 40 terbaik dengan pengelolaan kualitas air bersih yang melingkupi persoalan sanitasi, udara murni maupun dalam penanganan limbah dinegaranya. Padahal, sisi gelap yang harus diketahui bersama. Bicara soal air sampai detik ini mereka masih impor dari negara jirannya yaitu malaysia.

Selain itu, kesadaran betapa pentingnya sanitasi air bagi masyarakat Indonesia masih dipersepsikan dalam skala kesadaran publik yang cukup rendah. Yakni berada di level 20 persen (2024), dibalik belum adanya lembaga resmi maupun regulasi yang menangani masalah air.

Alhasil, 80 persen air yang di konsumsikan oleh masyarakat Indonesia hampir dikatakan tercemar oleh bakteri dan lain-lain. Berbeda hal dengan pengelolaan sanitasi air di negara maju. Misalnya Norwegia mengelola air lewat program perlindungan air tanah. Sebuah terowongan yang dibangun oleh pemerintah Norwegia (Department Oslo Water and Wastewater Departement) untuk pengelolaan air. Misalnya, terowongan tersebut diubah menjadi waduk lalu kemudian digunakan untuk penyimpanan air dalam berskala besar.

Selain itu, negara Prancis dengan program sanitasi air yang berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah maupun pihak swasta, dengan mengedepankan menjaga kandungan bakteri dalam kran air rumahan maupun industri ramah lingkungan dan higienis. Kebalikannya, kita di Indonesia wajib pikir-pikir dahulu. Jika ingin mengonsumsi air kran di sembarang tempat.

Persoalan yang tidak kalah penting, hampir 28 juta orang di Indonesia tidak menggunakan toilet atau wc. Misalnya, masih ada sebagian diantara masyarakat yang hobi buang air besar disembarang tempat. Seperti di ladang, semak, pinggiran sungai, tengah hutan, dalam parit maupun di ruang terbuka lainnya.

Akhirnya, akan berdampak besar bagi keberlangsungan kesehatan anak maupun dilingkungan masyarakat. Mengingat, buang air besar di sembarang tempat bisa berefek besar terhadap pasokan air yang sumbernya bisa saja dari ladang, sungai, laut, parit dan ruang terbuka lainnya. Selain itu kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih suka mengonsumsi air hujan sebagai kebutuhan untuk minum. Secara kualitas maupun kuantitas nyatanya air hujan tersebut belum tentu bersih. Khususnya, mereka yang hidupnya berdampingan dengan lingkungan industri dan lain-lain.

Refleksi 79 tahun Indonesia merdeka. Mari kita peduli akan air bersih untuk kebutuhan minum dalam ketahanan bangsa dimasa depan.

1. Menjaga lingkungan tetap asri dengan membiasakan membuang sampah pada tempatnya.

2. Mengurangi penggunaan yang berlebihan dengan menerapkan menanam pohon di aliran sungai. Agar terciptanya saluran air bersih bisa terjaga secara alami. Mengingat penanaman pohon dialiran sungai bisa berfungsi sebagai penyaring yang lebih higienis.

3. Bagi pemangku terkait pentingnya melakukan penyuluhan bagi masyarakat. Betapa pentingnya sanitasi air. Agar yang lainnya untuk selalu sadar menjaga air tidak tercemar disembarang tempat.

4. Pentingnya memodernisasi penataan sumber air bersih dengan memodifikasinya menyeimbangkan fase teknologi canggih. Ramah lingkungan dan itu harganya terjangkau oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah.

5. Sebagaimana, tertuang dalam Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahwasanya, Bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya di kuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Singkatnya, momentum 79 tahun Indonesia merdeka. Mari kita sadar menjaga air tetap higienis merupakan menjadi kewajiban bagi kita semua.



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment